Ikutilah Petunjuk Allah



Bismillahirrahmanirrahim.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Huraian dari blog post: https://quranruqyah.wordpress.com/2016/11/13/tafsir-surat-ali-imran-ayat-31-bukti-mencintai-allah/

Asbabun Nuzul ayat ini ialah tatkala Rasul SAW mengajak Ka’ab ibnul Asyraf dan pengikutnya yang terdiri dari orang-orang Yahudi untuk merimanya, ternyata jawabannya mereka adalah seperti yang dikemukakan oleh firman-Nya

نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ 
Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya [ QS. Al Maidah : 18 ]

Lalu Allah SWT memerintahkan kepada nabi dengan jawaban firman Allah Surat Al Maidah ayat 31, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Dalam mu’jam al-falsafi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Atau Al mahabbah dapat pula berarti Al Waduud yakni yang sangat kasih atau penyayang. Hanya saja al waduud, atau dalam firman Allah surat 30:21, disebut mawaddah lebih kearah cinta yang berarti persahabatan, seperti sifat mawaddah yang terjadi pada sepasang suami istri, bukan pengagungan kepada sang khaliq.

Menurut Al Maraghi dalam tafsirnya, Al Mahabbah adalah kecenderungan jiwa terhadap suatu karena adanya kesempurnaan yang dijumpainya di dalamnya, sehingga hal tersebut mengajak jiwa untuk mendekatkan diri kepadanya. Metode pendekatan hamba kepada Allah tentunya ada kaifiyahnya [ tata aturannya].

Maka, kata tuhibuunallah [ mencintai Allah ] yang datang dari seorang hamba kepada Allah, oleh Allah diberikan konsekuensinya, yaitu keharusan hamba untuk mengikuti jejak perilaku nabi SAW atau ajaran Nabi SAW. Karena itu adalah syarat akan balasan Allah berupa ampunanNya, sebagai zat yang Maha pengampun kepada semua makhluknya yang mau bertaubat kepadaNya.

Ayat ini sebenarnya menjadi pemisah dan pembeda [ furqon] antara siapa hamba Allah yang berada di fihak Nabi [ yang benar-benar beriman ], dengan menjalankan seluruh syariat Islam tanpa meresa keberatan sedikitpun, [ sami’na wa atho’na], dan dengan mereka yang tetap dalam agama mereka atau dalam kekufurannya, atau bahkan dalam kemunafikannya, karena keragu-raguannya dengan ajaran Islam yang mulia.

Kesimpulannya :

  1. Bukti cinta hamba kepada Allah adalah dengan mengikuti semua perintah-perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-larangan-Nya [ mengikuti syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW ]
  2. Balasan atas mahabbah seorang hamba kepada Allah adalah dengan diberikannya kasih sayangNya beserta ampunan-Nya.
Tamat.

No comments: