Keinginan Yang Kuat adalah Pintu Menuju Ilmu

بسم الله الرحمن الرحيم

Keinginan Yang Kuat adalah Pintu Menuju Ilmu

Tidak ada sesuatu yang diketahui seorang manusia tanpa usaha dan kerja keras dalam mencarinya, serta keinginan yang kuat dan semangat yang tinggi, yang mana ini akan membawa seorang tholibul ilmi kepada pencapaian ilmu yang di inginkannya, serta berjuang dan meluangkan waktunya untuk belajar.

Dan sesungguhnya sebagian dari thalibul ilmi telah datang kepada mereka semangat yang rendah dan kemantapan hati yang mati. Oleh karena itu juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berlindung dari 2 hal ini. Sebab keduanya akan menghambat seluruh kebaikan. dimana beliau bersabda :

حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa: 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, rasa takut, kepikunan, dan kekikiran. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.'"

(HR.Muslim No 4878)

Berkata Al-'Allamah Abdurrahman As-Sa'di Rahimahullah :

"Maka 'Azzam dan Tsabat adalah sebab paling besar untuk memperoleh keinginan yang bermacam-macam, sesungguhnya dari doa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam " Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu tsabat dalam urusan dan kemantapan hati didalam jalan yang lurus (kebaikan)". Karena 2 perkara ini akan menghasilkan kesempurnaan bagi seorang hamba, yaitu kemantapan hati diatas jalan yang lurus yang mana ia adalah perkara-perkara kebaikan seluruhnya dan tetap teguh atas hal itu (atas kebaikan dan kebenaran)."

Beliau rahimahullah melanjutkan perkataannya :

"Sedangkan kelemahan, ia berasal dari tidak adanya kemantapan hati atau adanya kemantapan hati (namun) bukan di atas jalan yang benar yaitu adalah perkara-perkara yang tidak ada manfaatnya baik untuk agama maupun untuk dunia, atau tidak adanya keteguhan yang mana sebabnya adalah ragu-ragu serta tidak adanya perencanaan yang matang . Maka kepada siapapun yang telah melakukan amalan-amalan kebaikan yang bermanfaat, hendaknya dia menempatkan dirinya kepada penyempurnaan (amal-amalnya) dari setiap sisi."

(Majmu' Al-Fawaaid Wa Iqtinash Al-Awabidh, hal 166)

Berkata Al-'Allamah Imam Ibn Al-Qayyim Rahimahullah :

ولما كان هذا العهد الكريم والصراط المستقيم والنبأ العظيم لا يوصل اليه ابدا إلا من باب العلم والارادة فالارادة باب الوصول اليه والعلم مفتاح ذلك الباب المتوقف فتحه عليه
مفتاح دار السعادة - (1 / 46)

"Sedangkan jika tujuan mulia yang berada diatas jalan yang lurus dan kabar yang mulia tidak dicapai kecuali dari pintu ilmu dan iradah, maka iradah adalah pintu menuju kepadanya dan ilmu adalah kunci dari pintu yang telah terkondisi pembukanya."

(Miftah Daari As-Sa'adah, Juz 1, Hal. 46, Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyyah)


Oleh : al-Akh Abu Hafsh Al-Liby
Disadur dari chanel Belajar Fiqh Hambali

No comments: